SURAKARTA – KSR PMI Unit UNS telah melaksanakan kegiatan Donor Darah yang diikuti oleh teman tuli. Kegiatan donor darah ini dilaksanakan pada 10 Oktober 2021 di RBI Gerkatin Surakarta tepatnya pada Jl. Surya No.146, Jagalan, Laweyan, Kota Surakarta. Dengan tema “Teman Tuli Percaya Diri, Teman Tuli Berarti Untuk Negeri “ peserta sangatlah bersemangat dalam mendonorkan darahnya. Kegiatan ini berhasil mendapatkan 11 kantong darah dari 12 pendaftar. Donor darah ini dilaksanakan dengan adanya kerjasama dengan PMI Kota Surakarta.
Peserta mengajukan pertanyaan (Doc. KSR UNS)
Sebelum dilaksanakannya kegiatan donor darah ini, KSR UNS juga mengadakan sosialisasi Donor darah bersama teman tuli. Kegiatane sosialisasi donor darah ini dilaksanakan pada Sabtu, 25 September 2021 melalui platform zoom. Kegiatan ini bertujuan untuk memberikan pandangan bahwa penyandang disabilitas juga memiliki kesempatan yang sama untuk mendonorkan darahnya, serta donor darah merupakan suatu yang aman dilakukan bagi penyandang disabilitas. Kegiatan sosialisasi yang diisi oleh dr. Dwi Eka Ratri Weningsari ini berjalan lancar hingga akhir. Peserta sosialisasi sangatlah antusias dimana peserta mengajukan banyak sekali pertanyaan dan mengikuti diskusi hingga akhir.
Dalam pelaksanaanya, KSR UNS melakukan pengecekan suhu kepada peserta donor darah. Selain itu, KSR UNS juga telah menyiapkan tempat cuci tangan dan himbauan untuk tetap menjaga jarak antar peserta. KSR UNS juga memfasilitasi teman tuli dengan menggunakan bahasa isyarat agar teman tuli dapat mendonorkan darahnya dengan mudah dan nyaman. Nur Kholila selaku ketua panitia menuturkan “Harapannya dengan diadakannya donor darah ramah teman tuli ini, bisa memberikan dampak positif kepada teman tuli dan kegiatan ini dapat menyadarkan masyarakat luas bahwa penyandang disabilitas memiliki hak yang sama untuk donor darah”
Peserta telah selesai melakukan donor darah ( Sumber : Doc. KSR UNS)
Dr. Victoria dari PMI Kota Surakarta juga menyampaikan kesannya selama membantu keberjalanan donor darah ini, “KSR UNS sangat membantu PMI dalam memenuhi stok kebutuhan darah. saya baru pertama kali ini membantu donor darah untuk teman-teman disabillitas dan saya sangat senang karena peserta sangat antusias”.
Foto Bersama dengan Peserta Donor Darah Difabel ( Sumber : Doc. KSR UNS)
Harapannya dengan kegiatan donor darah untuk penyandang disabilitas yang pertama kali dilaksanakan oleh KSR UNS ini membuat semakin banyak teman-teman disabilitas yang ingin mendonorkan darahnya karena teman disabilitas juga memiliki kesempatan yang sama. Selaras dengan pesan dari Komandan KSR PMI Unit UNS, Angga Firda Tamara “ semoga kegiatan baik ini dapat terus berjalan dan serta dapat memberikan inspirasi bagi lainnya untuk mengadakan kegiatan yang serupa, serta dapat menyadarkan bahwa semua memiliki dan berhak mendapat kesempatan yang sama untuk berbuat kebaikan salah satunya bagi para teman tuli dalam mendonorkan darahnya”. [Humas KSR PMI Unit UNS/Jihan Syarifah Rokhan]
Kantor WHO di Jenewa, Swiss ( Sumber :dok Reuters/Denis Balibouse)
Hasil studi baru yang dikeluarkan oleh Organisasi Kesehatan Sedunia (WHO) dan PBB, menunjukkan, bahwa orang yang menderita penyakit tidak menular, lebih rentan terkena sakit parah dan meninggal akibat COVID-19.
Pengertian PTM atau Penyakit Tidak Menular
PTM atau penyakit tidak menular merupakan suatu penyakit yang apabila melakukan kontak dengan penderita tidak akan menular. PTM dapat disebabkan oleh faktor genetik dan diikuti dengan gaya hidup yang tidak sehat. Faktor risiko yang mempengaruhi terjadi penyakit tidak menular diantaranya adalah kegemukan, tekanan darah yang meningkat, peningkatan kadar glukosa dalam darah, serta tingkat kolesterol dalam darah yang tidak optimal.
Penyakit Tidak Menular masih menjadi situasi yang harus diperhatikan selama pandemi Covid-19. Data dari WHO menjelaskan bahwa penyakit tidak menular telah menyebabkan lebih dari 40 juta orang meninggal di seluruh dunia dalam satu tahun, dan 7 dari 10 kematian global disebabkan oleh penyakit tidak menular. Dari jumlah tersebut, menunjukkan 17 juta orang meninggal dini, sebagian besar antara umur 30 dan 70 tahun.
Apa Saja yang Termasuk Penyakit Tidak Menular ??
Diabetes
Obesitas
Kanker
Hipertensi
Gangguan Pernapasan
Penyakit Jantung
Bronkitis
Bronkiolitis
Koroner
Asma
dan penyakit tidak menular lainnya
Apa Hubungannya PTM dengan Covid-19 ??
Dr. Nick Banatvala, Kepala satuan tugas PBB (Perserikatan Bangsa Bangsa) bagian penyakit tidak menular menjelaskan bahwa penyakit tidak menular meningkatkan kerentanan terhadap infeksi COVID-19, dan dapat berakibat buruk, termasuk pada anak muda. Penyebab umum PTM antara lain karena beberapa organ dalam tubuh penderita telah mengalami gangguan. Sehingga, dapat menurunkan imunitas tubuh dan meningkatkan risiko kematian apabila menderita Covid-19. Perlu adanya implementasi untuk memperkuat, dan mempertahankan kapasitas inti kesehatan masyarakat.
Dr. Nick Banatvala, Kepala Lembaga PBB Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular (Sumber : www.unodc.org)
Apa Hubungannya PTM dengan Covid-19 ??
Dewan Penasihat & Dewan Etik Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia (PERKI), Dr. dr. Anwar Santoso, SpJP(K) menjelaskan bahwa selain menjalankan protokol kesehatan Covid-19, masyarakat juga harus memperhatikan upaya optimalisasi pencegahan dan pelayanan pengobatannya contohnya seperti vaksinasi.
Penyakit Tidak Menular bisa Berdampak Komplikasi akibat COVID-19 ( Sumber : dok. Tumisu by Pixabay )
Lalu, Penyakit Tidak Menular Apa yang Paling Berisiko Menyebabkan Kematian Akibat Covid-19?
“Sebuah studi di Perancis menunjukkan, COVID-19 kemungkinan berkembang parah tujuh kali lebih tinggi, pada pasien dengan obesitas. Perokok, satu setengah kali lebih mungkin mengalami komplikasi parah akibat COVID-19 dan memiliki tingkat kematian yang lebih tinggi. Penderita diabetes memiliki kemungkinan dua hingga empat kali lebih besar, untuk mengalami gejala yang parah atau meninggal dunia akibat COVID-19.” ujar dr. Nick Banatvala.
( Sumber : dok. Diana.grytsku by Freepik )
Jangan Khawatir ! Berikut Beberapa Cara untuk Mencegahnya
Untuk mengatasi permasalahan ini harus ada implementasi untuk memperkuat, mengembangkan dan mempertahankan kapasitas inti kesehatan masyarakat. Menurut Juru Bicara Satgas Covid-19, dr. Reisa Broto Asmoro menjelaskan tingginya risiko kematian akibat covid-19 sebenarnya sangat bisa untuk dicegah sejak dini dengan melakukan beberapa hal sebagai berikut:
Mengatur pola makan
Batasi Konsumsi Gula, Garam, dan Lemak/Minyak
Hindari Gula Berlebih
Hindari Konsumsi Garam Berlebih
Hindari Konsumsi Lemak Berlebih
Berolahraga (Berdiri dan berjalanlah minimal 30 menit)
Mematuhi Protokol Kesehatan
Nah, setelah membaca artikel diatas Sobat KSR UNS pastinya sudah menjadi lebih paham kan tentang PTM atau Penyakit Tidak Menular? Penting nih bagi kita untuk memahami hal-hal yang sangat berisiko disaat pandemi Covid-19. Ingat! Tetap disiplin dengan protokol kesehatan dan jangan lengah dengan keadaan yaa. Stay safe and stay healthy everyone. [Humas KSR UNS/Vera Yuliati]
COVID-19 masih menyimpan banyak misteri dan masih perlu dilakukannya penelitian berkelanjutan dalam segala aspek, termasuk dampak jangka panjang yang dialami para penyintasnya. Long COVID-19 atau dikenal juga sebagai Long Haul COVID atau Post-Acute-SARS-CoV-2 (PASC) atau Post COVID Conditions adalah gejala sakit berkepanjangan yang diderita penyintas COVID-19 meski sudah dinyatakan sembuh dari COVID-19. Dr. Nasia Safdar, Direktur Medis Pengendalian Infeksi di University of Wisconsin, mengatakan bahwa kunci untuk membedakan Long Covid adalah dengan memperhatikan gejala baru yang berkembang, atau yang tidak pernah hilang, setelah sekitar 30 hari pasca infeksi.
Dr. Nasia Safdar, Direktur Medis Pengendalian Infeksi di University of Wisconsin (Sumber : www.madison.com)
Penderita Long COVID-19 tidak akan menularkan gejala yang sama ataupun virus kepada orang di sekitarnya dan tidak semua penyintas pasti mengalami Long COVID-19. Berdasarkan studi yang dilakukan para ahli, diyakini bahwa semakin berat gejala yang dialami penyintas pada saat terinfeksi COVID-19, semakin tinggi pula kemungkinan penyintas tersebut untuk mengalami Long COVID.
Gejala Long COVID (Sumber : www.freepik.com)
Pada laman covid19.go.id, dr. Yahya Sp.P, Kombespol sekaligus dokter spesialis paru Kabag Pembinaan Fungsi RS. Bhayangkara R. Said Sukanto, memaparkan sebanyak 53,7% pasien merasakan gejala Long Covid selama satu bulan, 43,6% pasien selama 1-6 bulan, dan 2,7% lebih dari 6 bulan. 5-20% pasien COVID-19 mengalami Long COVID-19 lebih dari 4 minggu, diperkirakan 1 tiap 10 pasien COVID-19 dapat mengalaminya hingga lebih dari 12 minggu.
Apa yang menyebabkan seseorang mengalami Long COVID ?
Prof. Dr. drh. I Gusti Ngurah Kade Mahardika, Ahli Virologi Universitas Udayana menjelaskan mengapa seorang penyintas dapat mengalami Long COVID, “Semua jaringan tubuh manusia bisa terinfeksi virus COVID-19 ini. Jadi Long Covid ini membuat pasien berisiko kerusakan jaringan tubuh dalam jangka panjang hingga menyebabkan gangguan respon imun dan gangguan saraf. Karena itu mohon jangan lagi menganggap remeh penyakit COVID-19 ini,” pesannya. Selain itu, kondisi psikologis juga bisa menjadi salah satu penyebab Long COVID.
Gejala atau gangguan kesehatan yang dialami bermacam-macam dan berbeda-beda pada setiap penyintas, berikut adalah gejala yang paling sering ditemui :
Sering lupa
Depresi
Sakit kepala
Tinnitus (telinga berdenging)
Kelelahan
Kehilangan penciuman
Batuk terus menerus
Sesak napas
Nyeri dada
Peradangan jantung
Palpitasi (jantung berdebar cepat atau kencang)
Demam berulang
Diare
Sakit perut
Kesemutann (pins and needles)
Nyeri otot
Ruam
Tidak Perlu Khawatir, Ini yang harus dilakukan!
Vaksinasi COVID-19 (Sumber : www.freepik.com)
Menurut dr. Nadia Nurotul Fuadah melalui alodokter, ketika seseorang mengalami Long COVID, hal-hal yang sebaiknya dilakukan terlebih dahulu untuk mencegah semakin parahnya gejala yang dialami adalah sebagai berikut :
Banyaklah beristirahat.
Jangan sembarangan meminum obat. Tidak disarankan meminum minuman yang mengandung kafein, susu, dan soda.
Tidak perlu terlalu panik atau cemas. Kelola stress dengan baik dan tetap tenang.
Dapatkan tidur yang berkualitas. Anda dapat mengangkat kepala sehingga tidur jadi lebih nyenyak.
Anda dapat mengompres area tertentu dengan kompres hangat jika merasa tidak nyaman.
Jangan memakan makanan yang mengandung gas.
Berolahragalah agar tubuh lebih kuat.
Berhentilah merokok agar penyakit tidak bertambah parah.
Jangan ragu untuk berkonsultasi dengan dokter terdekat agar dilakukan pengawasan jika gejalanya parah. Petugas kesehatan dapat merujuk Anda ke ahli atau dokter internal, atau fasilitas kesehatan jika penyakit Anda memburuk.
Menurut jurnal dari CDC atau Centers for Disease Control and Prevention (2019), pencegahan terbaik dari COVID adalah dengan melakukan vaksinasi COVID-19. Disarankan agar setiap orang yang berusia 12 tahun ke atas mendapatkan vaksin COVID sesegera mungkin. Pasien yang sudah sembuh dari COVID atau Post-COVID juga bisa mendapatkan vaksin.
Gaya hidup sehat juga penting untuk melawan gejala virus corona. Tetap disiplin dalam menerapkan protokol Kesehatan.
Dukungan lingkungan untuk mengatasi rasa malu atau ketakutan yang tidak berdasar untuk menulari orang lain juga diperlukan untuk membangkitkan semangat para penyintas corona.
Nah, setelah membaca artikel diatas Sobat KSR UNS sudah menjadi lebih paham kan tentang Long COVID? Penting bagi kita untuk memahami gejala apa saja yang terjadi dan cara menghadapinya ketika tubuh mengalami Long COVID karena kita dapat melakukan langkah-langkah pencegahan memburuknya kondisi tubuh akibat gejala Long COVID. Yuk gencarkan vaksinasi COVID-19, lawan hoax yang beredar dan sebarkan informasi yang benar. Ingat! Tetap disiplin dengan protokol kesehatan yaa Sobat. Stay safe and stay healthy everyone. [Humas KSR UNS/Aulia Yulia Maryani]
SURAKARTA – Banyaknya stigma negatif dari masyarakat mengenai dampak vaksinasi dapat mengancam upaya untuk menghadapi virus COVID-19. Kenyataannya, virus COVID-19 semakin meningkat pada pertengahan tahun ini. Maka dari itu, KSR PMI Unit UNS mengadakan Webinar Nasional dengan topik Tangguh Hadapi Pandemi, Perkuat dengan Vaksinasi pada Sabtu, 28 Agustus 2020. Acara ini diselenggarakan melalui platform Zoom Meeting serta Live Streaming Youtube.
Kegiatan ini telah diikuti oleh lebih dari 300 peserta dari kalangan mahasiswa, pelajar, dan masyarakat umum yang tersebar di seluruh Indonesia seperti Jayapura, Maluku Utara, Nusa Tenggara Barat, Kalimantan Tengah, Riau, dan masih banyak lagi. Webinar nasional kali ini menghadirkan dua pembicara, yaitu dr. Gunadi Ph.D., Sp.BA. (Wakil Akademi Ilmuwan Muda Indonesia, pakar molecular, genetika molekular, pedriatic surgery UGM) dan dr. Siti Nadia Tarmizi, M. Epid. (Juru bicara vaksinasi COVID-19 Kementrian Kesehatan). Selain itu, juga melibatkan koordinator vaksinasi Fakultas Kedokteran UNS, dr. Latief Jaya Subrata.
Sambutan oleh Prof. Dr. Ir. Ahmad Yunus, M.S. (dok Humas KSR PMI Unit UNS)
Webinar ini dibuka oleh Wakil Rektor Akademik dan Kemahasiswaan Universitas Sebelas Maret Surakarta, Prof. Dr. Ir. Ahmad Yunus, M.S. “Tangguh Hadapi Pandemi, Perkuat dengan Vaksinasi merupakan tema yang sangat relevan ditengah masa pandemi yang diharapkan segera berakhir ini. Hal ini menjadi kiat jitu untuk menambah pemahaman ke masyarakat karena masih terdapat masyarakat yang tidak percaya adanya COVID-19 serta anggapan negatif terhadap vaksinasi”, terang Bapak Yunus.
dr. Gunadi (dok Humas KSR PMI Unit UNS)
dr. Gunadi berpesan bahwa kita tidak perlu khawatir dengan vaksinasi karena apapun jenisnya kita tetap terlindungi. Berdasarkan research yang telah disampaikan, terbukti bahwa vaksin dapat melindungi dari mutasi virus COVID-19. Mutasi virus corona ini akan rutin kita hadapi. Setiap replikasi virus, terdapat kemungkinan 0,1 mutasi yang terjadi sehingga dapat disimpulkan terdapat 1 mutasi baru dari setiap 2 orang yang terinfeksi atau setiap dua minggu. Hal yang paling penting dalam menghadapi mutasi virus COVID-19 adalah patuh dengan protokol kesehatan.
Penyampaian materi oleh dr. Siti Nadia Tarmizi, M. Epid (dok Humas KSR PMI Unit UNS)
Siti Nadia Tarmizi, M. Epid menerangkan bahwa terdapat lima jenis vaksin COVID-19 yang beredar di Indonesia. Lima jenis vaksin tersbeut antara lain Moderna, Sinovac, Pfizer, AstraZaneca, dan Sinopharm. “Semua vaksin yang telah beredar di Indonesia sudah memiliki izin edar dari WHO,” jelas Ibu Nadia. Beliau juga menerangkan bahwa semua jenis vaksin sama baiknya.
Di akhir materi, Ibu Nadia mengajak para peserta seminar online untuk bersama melawan hoax. Hal tersebut dikarenakan berita hoax betul-betul menimbulkan keraguan masyarakat untuk melakukan vaksinasi. “Budayakan Saring sebelum Sharing, keep in your mind” tambah beliau.
dr. Latief Jaya Subrata (dok Humas KSR PMI Unit UNS)
“KSR UNS mempermudah akses informasi tersebut dan tidak tanggung-tanggung menghadirkan pakar kesehatan yang ahli di bidangnya! Informasi dan ilmu baru yang didapat sangat bermanfaat untuk masyarakat umum sebagai bekal menata pola pikir menghadapi era kebiasaan hidup baru,” ucap dr. Latief Jaya Subrata selaku moderator.
Pada akhir sesi materi, dr. Latief berpesan bahwa mendapatkan informasi terkini terkait mutasi dan vaksinasi sebetulnya tidak sulit. Hanya saja, lebih banyak informasi salah yang beredar dan menimbulkan spekulasi keliru serta antipati masyarakat terkait vaksin dan pandemi secara keseluruhan. Jangan takut vaksinasi karena vaksin aman dan halal! (Humas KSR PMI Unit UNS/Rivani Yuniar).
KIPI adalah singkatan dari Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi. World Health Organization (WHO) menyebut kondisi ini sebagai Adverse event following immunization (AEFI) atau bisa dikatakan sebagai Kejadian Merugikan Setelah Vaksinasi. Menurut keterangan WHO, KIPI adalah setiap kejadian medis yang tidak diinginkan, terjadi setelah pemberian imunisasi, dan belum tentu memiliki hubungan kausalitas dengan vaksin.
Seperti Apa Kategori KIPI yang Mungkin Kita Jumpai??
Menurut WHO, KIPI dikelompokkan ke dalam lima kategori di antaranya adalah:
KIPI yang terkait produk vaksin
KIPI kelompok ini diakibatkan atau dicetuskan oleh satu atau lebih komponen yang terkandung di dalam produk vaksin. Contohnya pembengkakan luas di tungkai setelah imunisasi DTP.
KIPI terkait dengan cacat mutu vaksin
KIPI yang terkait dengan cacat mutu vaksin disebabkan atau dicetuskan oleh satu atau lebih cacat mutu produk vaksin, termasuk alat pemberian vaksin yang disediakan oleh produsen. Contohnya kegagalan yang dilakukan oleh produsen vaksin pada waktu melakukan inaktivasi lengkap virus polio saat proses pembuatan vaksin IPV Vaksin polio inaktivasi (IPV).
KIPI terkait kekeliruan prosedur imunisasi
Kekeliruan prosedur imunisasi disebabkan oleh cara penanganan vaksin yang tidak memadai, penulisan resep atau pemberian vaksin yang sebetulnya dapat dihindari. Contoh dari KIPI ini adalah penularan infeksi karena vial multidosis yang terkontaminasi.
KIPI terkait kecemasan terkait imunisasi
KIPI ini terjadi karena kecemasan pada waktu pemberian imunisasi. Contohnya terjadinya vasovagal syncope (Sinkope vasovagal). Ini merupakan reaksi neurovaskuler yang menyebabkan pingsan pada remaja saat atau sesudah imunisasi.
KIPI terkait kejadian koinsiden
KIPI ini disebabkan oleh hal-hal di luar produk vaksin, kekeliruan imunisasi atau kecemasan akibat imunisasi. Kejadian koinsiden mencerminkan peristiwa sehari-hari dari masalah kesehatan di masyarakat yang sering dilaporkan. Contoh : Demam yang timbul bersamaan dengan pemberian imunisasi, ini terkait dengan asosiasi waktu.
Menteri BUMN Erick Thohir saat meninjau proses vaksinasi ( Photo by Dhemas Reviyanto from ANTARA )
Apa Saja Reaksi KIPI yang sering dijumpai ??
Seorang yang telah divaksinasi Covid-19 tidak diperbolehkan langsung pulang ke rumah, melainkan harus menunggu dulu setidaknya 30 menit. Tujuannya untuk memantau ada atau tidaknya KIPI. Bila 30 menit tidak ada reaksi yang patut dikhawatirkan, seorang yang telah menerima vaksin diperbolehkan untuk pulang. Reaksi KIPI terdiri dari tiga jenis yaitu:
Reaksi lokal: nyeri, bengkak, kemerahan di area bekas suntikan. Reaksi lokal yang terbilang parah yakni selulitis. Cara mengatasinya bisa dengan memberikan kompres dingin pada area tersebut. Bila perlu konsumsi obat parasetamol.
Reaksi sistemik: demam, nyeri otot seluruh tubuh atau myalgia, nyeri sendi atau artralgia, lemas, dan sakit kepala. Kondisi ini tergolong wajar karena tubuh sedang memproses imunitasnya. Kemenkes RI menyarankan untuk:
• Minum air putih yang banyak.
• Mengenakan pakaian yang nyaman.
• Mengonsumsi parasetamol sesuai dosis.
• Kompres hangat atau mandi air hangat.
Reaksi lain yaitu alergi : Kondisi ini bisa berupa biduran (urtikaria), anafilaksis (alergi parah hingga sesak napas), dan pingsan.
Penting !! Ketiga reaksi di atas tidak cuma menjadi KIPI dari vaksin COVID-19 saja, melainkan semua vaksin memiliki reaksi KIPI yang sama. Wajib diketahui, reaksi setelah vaksin ini sifatnya sementara. Reaksi ini hanya akan bertahan selama beberapa hari. Namun, selama itu kamu harus terus memantau kondisi tubuh.
Reaksi dan Gejala yang dirasakan setelah Vaksinasi Covid-19 ( Photo by Jcomp from Freepik )
KIPI terdapat 2 gejala yang sering dialami yaitu, gejala ringan dan gejala berat . Gejala KIPI ringan yang biasanya dirasakan adalah pusing, mual, nyeri otot (myalgia), nyeri sendi (arthralgia), nyeri di tempat suntikan, kelelahan, malaise (perasaan lelah, tidak nyaman, dan kurang enak badan), dan demam. Sementara gejala KIPI berat adalah istilah yang termasuk KIPI serius dan reaksi berat lainnya, gejala KIPI berat antara lain, kejang, trombositopenia, Hypotonic Hyporensponsive Episode (HHE), hingga menangis terus menerus (pada anak).
Komisi Nasional KIPI melaporkan dari awal vaksinasi COVID-19 hingga 16 Mei 2021, Komnas KIPI menerima 229 laporan, diantaranya KIPI serius terdiri dari 211 dari Sinovac dan 18 AstraZeneca. Sementara laporan KIPI ringan ada 10.627, terdiri dari laporan KIPI usai disuntik Sinovac 9.738 dan AstraZeneca 889.
Apakah KIPI dapat menyebabkan keraguan masyarakat terhadap keamanan vaksin Covid-19 ??
KIPI bisa juga menimbulkan keraguan bagi masyarakat terhadap keamanan vaksin Covid-19, untuk menghindari keraguan tersebut, perlu adanya sosialisasi yang luas mengenai prosedur yang harus dilakukan apabila masyarakat mengalami gejala KIPI.
Keraguan masyarkat terhadap Vaksinasi Covid-19 (Photo by Yanalya from Freepik)
Tindakan yang harus dilakukan apabila mendapai gejala KIPI yaitu segera laporkan pada Fasilitas Kesehatan (Faskes)/Puskesmas jika ditemui KIPI yang meresahkan atau menimbulkan perhatian berlebihan pada seorang yang menerima vaksinasi COVID-19, serta bisa juga melalui webisite http://keamananvaksin.kemkes.go.id/ Fasilitas Kesehatan akan segera melakukan koordinasi dengan Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota atau Pokja KIPI untuk dapat menindaklajuti apakah gejala yang dialami berasal dari vaksin Covid-19.
Nah Sobat KSR UNS penting bagi kita untuk paham mengenai reaksi dan gejala yang terjadi pada tubuh kita setelah melakukan vaksin Covid-19. Yuk kita dukung kegiatan Vaksinasi Covid-19 dengan menyebarkan informasi yang positif. Diharap informasi diatas dapat membantu dalam menambah informasi mengenai KIPI (Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi)
Tetap tetap patuhi protokol kesehatan 5M ( Mencuci tangan, Memakai masker, Menjaga Jarak, Menjahui Kerumunan, Mengurangi Mobilitas) Stay Safe and healthy all.[Humas KSR UNS/ Vera Yuliati]
Covid-19 telah melanda Indonesia 2 tahun ini dan telah banyak sekali upaya yang sudah dilakukan untuk mengakhiri pandemi covid-19 yang ada di Indonesia salah satunya Vaksinasi covid-19. Vaksinasi covid-19 ini bertujuan agar terciptanya kekebalan kelompok atau biasa disebut herd immunity. Yuk kita ketahui lebih dalam mengenai vaksin covid-19
Apa itu Vaksin Covid-19?
Antigen adalah salah satu komponen utama vaksin dimana antigen ini adalah komponen kecil dari suatu organisme penyebab penyakit yang sudah dimatikan atau dilemahkan sehingga tidak berbahaya. Dalam membentuk antibodi dalam sistem imun, antigen inilah yang akan berperan penting. Antibodi yang telah terbentuk akan melatih sistem imun kita untuk lebih mudah mengenali virus yang masuk ke tubuh. Dalam proses pembuatannya, vaksin covid-19 mengambil beberapa metode seperti memanfaatkan virus corona yang sudah dimatikan atau sering disebut dengan inactivated vaccine, messenger RNA (mRNA),dan dengan gen sintetis covid-19.
Apabila tubuh kita terpapar virus asing untuk pertama kalinya, sistem imun kita memperlukan waktu untuk membentuk atibodi yang dapat melawan virus tersebut. Pada fase ini lah tubuh kita akan rentan untuk jatuh sakit. Maka dari itu lah, tubuh kita perlu mendapat vaksin agar dapat terangsang dalam pembentukan antibodi tanpa jatuh sakit dan tubuh akan lebih siap untuk mencegah, menghancurkan apabila terdapat virus.
Tanpa adanya vaksin, tubuh memiliki resiko terkena penyakit serius atau cacat diakibatkan sebuah penyakit seperti campak, meningitis, dan sebagainya. WHO memperkirakan, vaksin menyelamatkan antara dua hingga tiga juta jiwa setiap tahunnya. Maka dari itu, vaksinasi covid-19 menjadi salah satu cara yang efektif untuk menyelesaikan pandemi covid 19. Namun yang perlu digaris bawahi adalah vaksin tidak memberikan perlindungan 100%, tubuh akan memiliki kemungkinan tertular penyakit namun efek yang timbul tidak akan seberat apabila tidak divaksin.
Mengapa Wajib Vaksin?
Apakah kalian tahu bahwa tidak semua orang memperoleh vaksin? Siapakah yang tidak mendapatkan vaksin? Mereka adalah orang yang memiliki penyakit berat, alergi, umur, dikarenakan memiliki tendensi komplikasi, sehingga mereka menaruh harapan kepada kita untuk divaksinasi agar virus tidak semakin menyebar. Ketika kita divaksin maka kita akan menyelamatkan diri sendiri dan orang lain yang rentan terhadap virus covid-19. Perlu adanya tameng pada diri kita apalagi ketika virus ini semakin cepat bermutasi.
Semakin banyak masyarakat yang sudah melakukan vaksinasi, maka terbentuklah kekebalan kelompok atau herd immunity. Herd immunity adalah suatu keadaan dimana penduduk suatu daerah sudah kebal terhadap suatu virus. Pemerintah indonesia telah menetapkan bahwa herd immunity akan tercapai apabila 70% masyarakat Indonesia mendapatkan vaksin covid-19.
Kegiatan Vaknisasi di Indonesia. Sumber :Antara Foto
Vaksinasi yang Sudah Berjalan di Indonesia Bagaimana Sih?
Vaksinasi pertama kali dilakukan kepada orang nomor satu di Indonesia, yaitu kepada bapak Ir. Joko Widodo pada tanggal 31 Januari 2021. Setelah dilakukannya vaksinasi kepada presiden RI, sehari setelahnya dilakukan vaksinasi kepada masyarakat. Vaksinasi di Indonesia dilakukan dengan 4 tahap, yaitu diantaranya:
Tahap 1 (tenaga kesehatan, asisten tenaga kesehatan, tenaga penunjang serta mahasiswa yang sedang menjalani pendidikan profesi kedokteran yang bekerja pada Fasilitas Pelayanan Kesehatan).
Tahap 2 (Petugas pelayanan publik yaitu TNI, Polri, aparat hukum, petugas pelayanan publik lainnya, serta kelompok usia lanjut (≥ 60 tahun).
Tahap 3 (menyasar masyarakat rentan dari aspek geospasial, sosial, dan ekonomi).
Tahap 4 (masyarakat dan pelaku perekonomian lainnya dengan pendekatan klaster sesuai dengan ketersediaan vaksin).
Hingga saat ini, kegiatan vaksinasi di Indonesia telah mencapai tahap 3. Kegiatan vaksinasi di Indonesia semakin digencarkan setelah adanya lonjakan kasus covid-19 di Indonesia. Vaksin yang digunakan di Indonesia dan telah mendapat izin edar serta telah melalui uji klinik adalah AstraZeneca, Sinovac/Corona Vac, Moderna, Sinopharm, Pfizer, Novavax. Pada 3 Juni 2021, WHO telah mengevaluasi bahwa vaksin covid-19 berikut telah memenuhi kriteria yang diperlukan untuk keamanan dan kemanjuran:
Nama Vaksin
Tipe
Asal Negara
Pengembang
Efektivitas
Dosis
Suhu Simpan
AstraZeneca
/Oxford
Non replicating viral vector
Inggris
University of Oxford
62% (1 dosis)
90% (2 dosis)
1 atau 2 dosis (jarak 28 hari)
2-8°C
Johnson&Johnson
Non replicating viral vector
Amerika Serikat
Johnson&Johnson
72%
1 dosis
2-8°C
Moderna
RNA
Amerika Serikat
National Institute of allergy and infectious diseases
94,1%
2 dosis (jarak 28 hari)
-20°C (bertahan selama 6 bulan)
2-8°C (stabil hingga 30 hari)
Pfizer/BionTech
RNA
Amerika serikat dan Jerman
Pfizer (AS) dan BioNTech (Jerman)
95%
2 dosis (jarak 28 hari)
-70°C dan 2-8°C (bertahan 5 hari)
Sinopharm
Inactivated
Cina
Beijing Institute of Biological Product
79%
2 dosis (jarak 21 hari)
2-8°C
Sinovac
Inactivated
Cina
Sinovac research and Development CO., Ltd
65,3 %
2 dosis ( jarak 14 hari)
2-8°C
Yuk kita dukung kegiatan vaksinasi covid-19 ini dengan cara mengedukasi sesama dan so pasti melakukan vaksinasi yaaa agar Indonesia kembali pulih dari pandemi covid-19. Seperti yang telah dijelaskan diatas bahwa vaksin covid-19 tidak akan 100% membentengi tubuh dari paparan virus covid-19. Maka dari itu, penting bagi kita semua untuk tetap patuh dalam melaksanakan seluruh protokol kesehatan seperti 5M (menggunakan masker, menjaga jarak, menjauhi kerumunan, membatasi mobilitas dan selalu mencuci tangan setelah beraktivitas) serta protokol kesehatan lainnya. Ingat guys virus covid-19 ini tidak memilih siapa yang akan dijadikan tempat bersinggah. Sooo… Stay Safe and healthy. [Humas KSR UNS/Jihan Syarifah Rokhan]
SURAKARTA – KSR PMI Unit UNS telah melaksanakan kegiatan perlombaan tingkat nasional yang bertajuk Volunteer Week and Youth Volunteer Competition 8. Pada ajang kompetisi Volunteer Week 8 ini mengangkat tema Volunteer Masa Kini : Mengabdi dari Hati pada Masa Pandemi. Kondisi pandemi COVID-19 yang sedang melanda Indonesia mengharuskan mayoritas kegiatan dilaksanakan dengan metode daring. Kegiatan luring seperti Vowee Care dan Vowee Donate dilaksanakan dengan memperhatikan protokol kesehatan. Kondisi tersebut tidak menurunkan semangat peserta untuk mengikuti perlombaan nasional ini. Acara Volunteer Week and Youth Volunteer Competition 8 dengan berbagai rangkaian kegiatan sosial dan perlombaan berlangsung mulai 25 Januari – 5 Juni 2021. Kegiatan Volunteer Week and Youth Volunteer 8 terdiri dari beberapa kegiatan penunjang, antara lain Lomba Kreasi Maskot Vowee, Vowee Donate, Vowee Care, dan Vowee Talk.
RANGKAIAN KEGIATAN VOLUNTEER WEEK 8
Lomba Kreasi Maskot Vowee atau LKMV merupakan perlombaan untuk menyalurkan kreativitas peserta maupun masyarakat umum melalui ajang kreasi maskot Volunteer Week yaitu Vowee. LKMV yang dilaksanakan sejak 25 Januari – 27 Februari 2021 ini telah diikuti oleh 65 peserta. Telah terpilih satu karya terbaik yang menjadi juara, yakni karya dari Anintriyoga Dian P.
Penyerahan sembako Vowee Donate oleh perwakilan peserta (Sumber : Dok. Humas KSR PMI Unit Uns)
Kegiatan selanjutnya yakni Vowee Donate yang merupakan kegiatan galang donasi untuk sesama yang ditujukan ke Panti Misi Nusantara dan Griya PMI. Melalui kegiatan galang donasi tersebut berhasil terkumpul donasi sebesar Rp3.697.075,00. Donasi tersebut telah disalurkan berupa 17 potong pakaian, beras 2,5 kg, dan beras 4 kantong ukuran ekonomis. Penyaluran tersebut telah dilaksanakan pada 30 Mei 2021. Meskipun acara dilaksanakan di Solo, namun tidak menyurutkan antusias para peserta Volunteer Week and Youth Volunteer Competition 8 dari penjuru Indonesia untuk ikut dalam kegiatan sosial ini.
Kegiatan Vowee Care di LPPM UNS Kampus Kentingan (Sumber : Dok. Humas KSR PMI Unit UNS)
Kegiatan berikutnya adalah Vowee Care yang merupakan kegiatan donor darah untuk menyemarakkan Hari Palang Merah Internasional yang jatuh pada tanggal 26 Mei 2021. Kegiatan ini dilaksanakan di dua tempat yaitu di LPPM UNS Kampus Kentingan dan Fakultas Keolahragaan UNS Kampus Manahan. Pada kegiatan Vowee Care, turut dihadiri oleh Rektor UNS, Prof. Dr. Jamal Wiwoho, S.H., M.Hum dan Wakil Rektor Riset dan Inovasi, Prof. Dr. Kuncoro Diharjo, S.T., M.T. Pada acara Vowee Care ini berhasil diperoleh 62 kantong darah dari total 75 peserta yang mengikuti donor darah.
Vowee Talk session 1 dan 2 (Sumber: Dok. Humas KSR PMI Unit UNS)
Kegiatan yang lainnya adalah Vowee Talk yang telah diselenggarakan sebanyak dua kali yaitu pada 22 Mei 2021 dan 5 Juni 2021. Vowee Talk merupakan seminar online yang membahas topik sesuai dengan tema yang diangkat. Vowee Talk session 1 diisi oleh Annisa Marezqa dari IFRC dan Exkuwin Suharyanto sebagai Kepala Divisi PMR dan Relawan PMI Pusat. Acara opening dan Vowee Talk session 1 berjalan dengan baik. Vowee Talk session 2 berbicara tentang “Strategi Membangun Branding Image Melalui Produktivitas Konten di Media Sosial” oleh pemateri Ayu Paraswati dari PMI Pusat dan sharing relawan oleh Maeza Angga Rizki sebagai Koordinator Forum Relawan PMI 2019.
Pengumuman juara umum kategori PMR (Sumber : Dok. Humas KSR PMI Unit UNS)Pengumuman juara umum kategori KSR (Sumber : Dok. Humas KSR PMI Unit UNS)
PERLOMBAAN VOLUNTEER WEEK
Volunteer Week and Youth Volunteer Competition 8 memiliki beberapa mata lomba untuk kategori PMR Wira dan KSR. Tingkat PMR Wira terdiri dari beberapa cabang lomba, yaitu konten pertolongan pertama, rancangan kegiatan, esai, dan monolog. Pada tingkat KSR juga terdapat beberapa kategori antara lain konten pertolongan pertama, rancangan kegiatan, karya ilmiah, dan podcast. Perlombaan PMR dan KSR terbesar di Indonesia ini berhasil diikuti oleh 73 kontingen PMR Wira dan 43 kontingen KSR yang tersebar di 12 provinsi seluruh Indonesia.
Volunteer Week and Youth Volunteer Competition 8 dibuka dengan Opening Ceremony. Opening ceremony telah dilaksanakan pada Sabtu, 22 Mei 2021. Acara ini disambut oleh Dr. Sutanto, DEA selaku Direktur Reputasi Akademik dan Kemahasiswaan, Rini Kuswandari S.H., M.M. selaku perwakilan dari Dinas Pemuda dan Olahraga, dan Dr. (H.C.) Drs. H. Muhammad Jusuf Kalla selaku ketua PMI Pusat. “Para volunteer di berbagai tingkatan telah bahu-membahu dalam membantu masyarakat. Karena itu acara VW8 yang dilaksanakan di KSR UNS kali ini sangat penting sebagai sarana pendidikan dan pengkaderan relawan” tutur Jusuf Kalla selaku ketua PMI Pusat. Acara Volunteer Week 8 dibuka secara simbolis dengan pemukulan gong oleh Ibu Rini Kuswandari selaku Dinas Pendidikan dan Olahraga.
Setelah kegiatan opening ceremony, acara dilanjutkan dengan rangkaian lomba. Selama rangkaian kegiatan lomba para peserta diajak untuk mengikuti perlombaan dengan baik dan sportif. Puncak rangkaian ini pada closing ceremony sekaligus pengumuman kejuaraan yang telah berlangsung pada Sabtu, 5 Juni 2021. Berikut ini adalah para juara lomba Volunteer Week 8, antara lain :
KATEGORI PMR WIRA
KATEGORI KSR PT/MARKAS
JUARA UMUM
PMR WIRA : SMA Al Abidin Bilingual Boarding School Surakarta
KSR : KSR PMI Unit Politeknik Kemenkes Malang
Demikian dilaksanakannya Volunteer Week 8. Selamat kepada kontingen yang meraih juara pada Volunteer Week and Youth Volunteer Competition 8 tahun 2021, tetap semangat untuk terus belajar dan berproses menjadi relawan yang mengabdi dari hati walaupun di masa pandemi ya Vols! Sampai jumpa di Volunteer Week selanjutnya. (Humas KSR PMI Unit UNS/Rivani Yuniar)