Seabad Lebih Terbentuk, Kini Ancaman Anak Krakatau Semakin Nyata

Aktivitas vulkanik Anak Gunung Krakatau yang terletak di Selat Sunda terus meningkat. (Sumber: google)

PVMBG (Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi) Badan Geologi ESDM (Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral) telah menaikan status Anak Gunung Krakatau dari Waspada (Level II) menjadi Siaga (Level III).

Dengan adanya kenaikkan status Anak Gunung Krakatau menjadi Siaga tersebut, zona berbahaya yang semula 2 km ditingkatkan menjadi 5 km. Masyarakat dan wisatawan dilarang melakukan aktivitas  dalam radius 5 km dari puncak kawah. Hal ini dikarenakan terdapat bahaya erupsi berupa lontaran batu pijar, awan panas dan abu vulkanik pekat.

Anak Gunung Krakatau sendiri telah kembali aktif dan memasuki fase erupsi mulai 29 Juli 2018 dan terus meningkat hingga sekarang. Pada Agustus 2018 lalu, gunung yang terletak di Selat Sunda ini erupsi sebanyak 576 kali dalam sehari.

 

Peta Zona Cincin Api (Sumber: google)

Anak Gunung Krakatau merupakan satu dari 127 gunung berapi di Indonesia yang berada dalam zona cincin api. Sebagaimana diketahui, salah satu zona vulkanik paling aktif di dunia adalah zona cincin api atau yang biasa disebut ring of fire. Zona cincin api tersebut membentang dari pesisir barat Amerika kemudian sepanjang Aleutian Alaska dan turun ke pesisir timur Asia.

 

 

Anak Gunung Krakatau yang semula tidak ada, merupakan hasil letusan Gunung Krakatau setelah 40 tahun. Pada 26 sampai 27 Agustus 1883 terjadi letusan amat dahsyat yang menghancurkan hampir 60 persen tubuh Krakatau di bagian tengahnya, lalu terbentuklah Lubang Kaldera.

Letusan itu menghancurkan Gunung Danan, Gunung Perbuwatan, serta sebagian Gunung Rakata di mana setengah kerucutnya hilang, membuat cekungan selebar 7 km dan sedalam 250 meter.

Anak Krakatau mulai terlihat pada 29 Desember 1927 ketika sejumlah nelayan dari Jawa menyaksikan ada uap dan abu muncul dari Kaldera yang masih aktif. Setiap bulan Kaldera yang kemudian disebut  Anak Gunung Krakatau bertambah tinggi sekitar 0,5 meter atau 6 meter per tahun.

Sampai saat ini Anak Gunung Krakatau termasuk gunung yang masih aktif dan sewaktu-waktu bisa meletus, untuk itu Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi masih terus memantau aktivitas Anak Gunung Krakatau.

Dengan adanya fenomena ini Palang Merah Indonesia (PMI) turut terlibat dalam penyediaan lokasi evakuasi apabila terjadi bencana. Salah satu tempat yang disediakan adalah Kota Cilegon, seperti : Gunung Cipala, Gunung Batur, dan lain-lain.

Sumber: Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM)

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.