Pada tanggal 12 hingga 14 Mei 2017, KSR PMI Unit UNS menyelenggarakan Latihan dan Pemantapan bagi anggota XXVI yang bertempat di Desa Mliwis Cepogo Boyolali. Acara yang menjadi puncak dari pelatihan anggota baru ini dihadiri oleh 33 peserta. Disini, peserta dikondisikan menjadi relawan yang akan membantu daerah tertentu yang sedang mengalami bencana. Karena didalam LKPA teman-teman XXVI telah terbiasa dengan keadaan bencana, saat mendapatkan instruksi terjun kebencana anggota XXVI telah siap.

“Alhamdulillah kegiatan Lantap XXVI berjalan cukup lancar dengan bantuan dari seluruh panitia KSR UNS dan peserta yang cukup antusias dalam mengikuti kegiatan ini, terlihat dari banyakn ya peserta yang datang yaitu 33 dari 44 angkatan XXVI KSR UNS. Dari jumlah tersebut dapat dikatakan Lantap ini memiliki jumlah peserta terbanyak kurang lebih 5 tahun terakhir.” tutur Wawan Yulianto selaku steering committee dan divisi Pendidikan serta Pelatihan KSR UNS 2017.

Wawan menambahkan, “Evaluasi Lantap XXVI ini lebih obyektif karena adanya sistem penilaian menggunakan grid, yang sebelumnya belum ada, sehingga evaluasi lebih terarah dan mengena.”

“Lantap ini mantap, bener-bener ngelatih fisik sama mental. Terus bisa lebih tau karakternya temen-temen XXVI yang saling merangkul satu sama lain. Menejemen bencananya seru banget, berasa bencana beneran, tapi itu pasti belum ada apa-apanya dibandingkan dengan bencana yang sesungguhnya. ” tutur Fatimah Az Zhara salah satu peserta dari prodi Biologi.

Peserta bersama sama membereskan perlengkapan

 

Menejemen bencana adalah serangkaian kegiatan yang didesain untuk mengendalikan situasi bencana yang darurat dan untuk membantu orang yang renta bencana saat mengatasi dampak bencana tersebut. Didalam MB ini seluruh aspek kebencanaan dijalankan oleh peserta. Aspek-aspek MB itu antara lain assestment bencana, dapur umum, Incidental Command System and Triage (ICS), Logistik dan Distribusi, Restoring Family Links (RFL), Shelter, water and sanitation dan physocological support program (PSP).

Fatimah menambahkan, “Yang paling berkesan itu saat berangkat kan kita harus nyari mobil yang bisa ditumpangi, tetapi pas itu nggak bisa keangkut semua. Jadi beberapa orang masih harus nyari tumpangan lagi. Sedih rasanya.”

“Seru banget pas Lantap kemaren. 33 orang ngelakuin menejemen bencana bareng-bareng. Masak bareng, bikin WC bareng, mbikin tenda bareng, pokoknya semuanya dilakuin bareng-bareng. Tapi sayangnya pas nyari tebengan, ada beberapa temen yang belum dapat tebengan. Pas itu, rasanya ada yang ilang” tutur Malinda Duta, salah satu peserta dari fakultas MIPA.